-->

Breaking

logo

Kamis, 31 Desember 2020

Subhanallah, Ternyata Inilah Isi Wasiat Almarhum Gus Dur yang Dibongkar oleh Gubernur Jawa Timur

Subhanallah, Ternyata Inilah Isi Wasiat Almarhum Gus Dur yang Dibongkar oleh Gubernur Jawa Timur

Subhanallah, Ternyata Inilah Isi Wasiat Almarhum Gus Dur yang Dibongkar oleh Gubernur Jawa Timur
DEMOCRAZY.ID - Secara mengejutkan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membongkar sebuah wasiat Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebelum ia wafat.

Khofifah menjelaskan bahwa Gus Dur merupakan sosok yang lebih suka disebut sebagai seorang humanis dari pada pluralis.


Maka dari itu, sebelum beliu meninggal, menurut Khofifah Gus Dur memberikan sebuah wasiar agar agar batu nisannya dituliskan "The Humanist Died Here" (Di sini berbaring seorang Humanis).


"Beliau lebih suka disebut humanis karena toleransi itu ada bila sisi kemanusiaan seseorang itu lebih dominan," tuturnya, 31 Desember 2020.


Wasiat tersebut baru berani ia sampaikan saat acara Haul ke-5 Gus Dur yang berada di dekat makam beliau di Tebuireng, Jombang.


"Wasiat itu baru saya sampaikan saat Haul Ke-5 di dekat makam beliau di Tebuireng," terangnya.


Lebih lanjut Khofifah mengaku cukup lama tidak mau memberikan testimoni apapun terkait Almarhum Gus Dur.


Menurutnya, Kendati sering mendampingi Gus Dur saat jalan-jalan pagi setelah Subuh di Istana Negara, namun ia akhirnya menyampaikan wasiat soal tulisan "Humanist" untuk nisan itu saat Haul Ke-5 di dekat makam Gus Dur.


"Bertahun-tahun, saya tidak mau menyampaikan testimoni tentang beliau, karena saya merasa hanya tukang kupas jagung rebus atau buah-buahan untuk beliau,” katanya.


“Termasuk mendampingi saat jalan-jalan setelah Subuh, tapi di dekat makam beliau akhirnya saya sampaikan wasiat yang disampaikan kepada saya sejak dua tahun sebelum wafat hingga tujuh hari menjelang wafat beliau," lanjutnya.


Khofifah juga menyebutkan bahwa Gus Dur sering sekali menyampaikan tentang konsep humanisme di luar negeri, salah satunya Amerika Serikat.


"Di AS, Gus Dur pernah bilang bahwa 'Di negeri saya, saya lindungi minoritas, maka tolong negara anda juga melindungi minoritas'," tutur-nya, mengutip Presiden Gus Dur.


Mantan Menteri Sosial itu kemudian menyatakan buku tentang Gus Dur yang memimpin negeri ini dalam 22 bulan lebih banyak daripada tentang Presiden Soeharto yang memimpin selama 30 tahunan.


"Tapi, buku yang ada mayoritas masih menunjukkan sosok Gus Dur sebagai pluralis, padahal Gus Dur lebih suka disebut sebagai humanis atau Bapak Kemanusiaan," tutur-nya. [Democrazy/jrps]